Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Januari 2019

[Review] 11:11 - Albuk Kedua Fiersa Besari


11:11 adalah album Bung Fiersa pada tahun 2012, yang kemudian dihadirkan kembali sebagai albuk (album buku). Sekaligus menjadi karya tulis Bung yang kelima setelah Garis Waktu, Konspirasi Alam Semesta, Catatan Juang dan Arah Langkah.

11:11 resmi diluncurkan ke publik pada tanggal 11 November 2018 kemarin. Hmmm, matching banget ya angkanya. 😁

Sedikit bercerita...

Sebenarnya, ini adalah buku yang hendak aku lewatkan. Jadi, beberapa bulan sebelum resmi dipasarkan, aku benar-benar tidak tertarik untuk membacanya. Saat itu mood bacaku sedang menurun drastis. Di rumah juga ada beberapa buku yang sudah terlanjur dibeli namun tak kunjung dibaca. Rasa-rasanya aku terjangkit virus tsundoku.

Tapi...... pas hari H peluncuran buku kelima Bung Fiersa ini, aku tak berdaya. Putar balik 180°. Langsung buka-buka akun tobuline (toko buku online) di Instagram. Berharap masih ada yang menerima preorder lengkap dengan CD lagu dan tanda tangan Bung Fiersa.

ttd Bung Fiersa

Alhamdulillah, aku masih beruntung. *nyengir kuda* Dan berkat 11:11, mood bacaku pun kembali.

***

Baiklah, mari kita review perlahan, buku yang aku beli seharga sembilan puluh lima ribu rupiah ini (harga sudah termasuk ongkir).

Detail Buku

Judul: 11:11
Penulis: Fiersa Besari
Penyunting: Juliagar R. N.
Penyunting Akhir: Fenisa Zahra
Desainer Cover: Budi Setiawan
Penata Letak: Didit Sasono
Cetakan Pertama: Tahun 2018
Jumlah Halaman: vi + 302 halaman
Dimensi Buku: 13 x 19 cm
Diterbitkan pertama kali oleh: mediakita



Review

Jika melihat covernya, kita pasti sepakat, bahwa ini sangat mirip dengan Konspirasi Alam Semesta. Hanya beda degradasi warnanya saja.

Berisi 11 cerita dan 11 lagu, 11:11 merupakan albuk (album buku) kedua karya beliau setelah Konspirasi Alam Semesta. Meskipun demikian, cerita dari kedua buku tersebut tidaklah saling berkaitan satu sama lain, sehingga bisa kita menikmatinya secara terpisah.

11 Cerita yang dihadirkan Bung Fiersa dalam buku ini juga tidak saling berhubungan. Ada yang berakhir bahagia, ada yang berakhir sedih. Tiap kisah punya nyawanya masing-masing. Ada yang bikin dahi berkenyit, ada yang bikin cengar cengir, dan ada yang bikin mellow. Asikin aja semuanya.


Quotes

Bukan Fiersa Besari namanya, jika dalam karya-karyanya tak menyisipkan quote atau kalimat-kalimat ajaib yang bikin baper, galau, mellow atau berujar 'benar juga'. Tapi kali ini aku akan mengutip yang ringan-ringan saja, karena beban hidup kita sepertinya sudah berat. Kita??

Baiklah, mari kita review tipis-tipis kutipan menarik apa saja yang ada dalam 11:11.

Check this out...

"Kadang, kita terlalu fokus sama yang besar, sampai lupa melihat yang kecil."

"Bereskan apa yang perlu dibereskan. Agar tidak ada lagi keraguan."

"Memiliki pendengar yang tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam itu menyenangkan."

"Uang yang hilang bisa diganti, namun waktu yang hilang Takan pernah bisa kembali."

"Waktu enggak akan menunggu. Lepaskan yang sudah hilang, hargai yang masih ada."

"Bukan seberapa lama hidup ini yang dihitung, tapi seberapa berarti kita menghabiskannya."

"Dengan sendirinya, seiring waktu, manusia memang akan melupakan segala sesuatu."

"Manusia itu banyak sekali. Semua manusia pasti punya masalah."

"Sebetulnya, tidak perlu buku untuk menjadi bijaksana. Cuma perlu merasakan hidup susah."

"Putri raja ataupun bukan, titah perempuan menjelma sabda bagi lelaki yang mempunyai perasaan lebih terhadapnya."

"Lanjutkan hidupmu dengan penuh syukur."

Baiklah, mari melanjutkan hidup kita dengan penuh syukur. Dan untuk pembaca yang sedang mencari atau menanti jodoh, Bung Fiersa punya quote pamungkas nih, sekaligus sebagai penutup artikel ini... Terima kasih sudah mampir. 🙏

"Orang bilang, jodoh takan kemana. Aku rasa mereka keliru. Jodoh akan kemana-mana terlebih dahulu sebelum akhirnya menetap.

Ketika waktunya telah tiba, ketika segala rasa sudah tidak bisa lagi dilawan, yang bisa kita lakukan hanyalah merangkul tanpa perlu banyak kompromi."

***

📚 simpleannia.blogspot.com 📚


Baca Juga: 


Minggu, 19 Agustus 2018

[REVIEW] Invalidite - The Bridge of Perfection by Faradita

@annie_a
Invalidite, novel yang aku beli karena tertarik sama warna covernya. "Don't judge a book just by it's cover" sedang tidak mempan mempengaruhiku untuk tidak ikut-ikutan pre-order. Hehe, khilaf yang indah. Karena pada akhirnya, aku nggak nyesel beli ini buku. Pesan tanggal empat, bayar tanggal sepuluh (karena lupa 😁😁🙏🙏 untung saja batas waktu pre-order saat itu sampai tanggal 15), lalu barang mendarat dari ekspedisi tanggal dua puluh lima (kalau tidak salah ingat 🤔🤔). Semua proses di bulan Juli.

Setelah dianggurin kurang lebih selama tiga minggu di rumah, akhirnya Invalidite rampung kubaca hari ini. Kak Faradita (sang penulis) berhasil memaksaku buru-buru menuntaskan kisah dalam novel setebal 398 halaman ini. Tidak lain dan tidak bukan adalah karena rasa penasaran yang sulit untuk ditahan. Secara terputus-putus, novel ini selesai dalam tiga hari. Yang mana jika aku membaca secara normal (sekitar 25 halaman per hari) harusnya buku ini selesai dalam setengah bulan. Hehehe, maklum, meski suka membaca, aku bukan maniak buku. Bahkan ada novel yang kutinggalkan karena merasa tidak tertarik di bagian tengahnya. 🙏🙏

Baiklah, mari kita kupas perlahan tentang seberapa menariknya novel Invalidite ini. Novel yang telah dibaca 19 juta kali di Wattpad dan menyandang predikat #1 In Romance pada 10 Januari 2018.

Check this out... 👇

Judul: Invalidite
Penulis: Faradita
Tebal: Vi + 398 halaman
Dimensi: 13 x 19 cm
Cetakan Pertama: Tahun 2018
Diterbitkan pertama kali oleh: Penerbit Kubusmedia

Tokoh yang terlibat:

Pelita Senja ~ Mahasiswa dengan keterbatasan fisik yang selalu bersyukur atas apa yang ia terima. Pintar dan selalu berpikir positif pada setiap orang dan setiap keadaan. Sabar dan polos. Polooosss banget. Sampe aku mikir apa iya masih ada cewek sepolos Pelita di jaman now.

Dewa Pradipta ~ Mahasiswa yang tak pernah masuk kelas karena dendam masa lalunya pada pemilik kampus yang tak lain adalah kakeknya sendiri. Playboy jahanam yang punya ingatan super perihal apapun.

Gilvy ~ Sahabat Pelita sejak SMA, sepupu tiri Dewa sekaligus rivalnya dalam segala hal.

Rendi ~ Sahabat Dewa sekaligus partner kerjanya di dunia fotografi. Kocak, sembrono kalau ngomong but care banget soal friendship.

Gerka ~ Sahabat Dewa dan Rendi sekaligus partner kerjanya juga di dunia fotografi. Kocak tapi lebih waras daripada Rendi. Care soal friendship juga, sama seperti Rendi.

Tika ~ Seharusnya ia adalah sahabat perempuan Pelita satu-satunya. (Menurutku)

Siska ~ Model, mantannya (atau buka ya...) Dewa. Mengisi peran Antagonis yang selalu memusuhi Pelita.

David ~ Pemilik Kampus, Kakeknya Dewa dan Gilvy.

Burhan ~ Ayahnya Pelita.

Jeremy ~ Ayahnya Gilvy.

Santoso ~ Orang kepercayaan keluarga David, Ayahnya Tika

Brata ~ Rektor Kampus.

Plot Cerita:

Dewa Pradipta yang sangat cerdas dalam meremehkan orang lain, pandai berkelahi dan juga mahir menyakiti perempuan kemudian harus berhadapan dengan Pelita yang ditunjuk oleh Brata untuk menjadi pembimbing belajarnya. Kegiatan bimbingan ini merupakan perintah David  agar Dewa menjadi manusia yang berpendidikan dan pantas melanjutkan tahtanya.

Kearoganannya untuk menolak bimbingan tidak berpengaruh pada Pelita, seorang gadis berpakaian kuno yang juga memiliki keterbatasan fisik.

Dewa terusik oleh Pelita yang selalu menanggapi sikap kasarnya dengan senyuman. Apalagi ketika gadis itu memaksa untuk mengatur hidupnya.

Tanpa menyadari akibat yang mungkin bisa menyakiti dirinya sendiri. Dewa memulai sebuah permainan untuk menaklukan Pelita atas usulan Rendi. Dan Gerka menjadi saksi bagaimana semuanya bermula. Bagi Dewa, Pelita adalah sebuah paket lengkap untuk memenangkan taruhan sekaligus menyakiti hati sepupu tirinya, Gilvy, yang juga menaruh hati pada Pelita.

Nggak mau terlalu banyak spoiler, pokoknya kita bakal larut deh dalam kisah mereka. Juga banyolan-banyolan Rendi dan Gerka yang bakalan buat kita cekikikan sendiri bacanya.

Menurut pendapat pribadiku, novel ini merupakan paket lengkap sebuah cerita yang mengusung tentang persahabatan, percintaan, kekeluargaan, cita-cita serta pengkhianatan. Sarat akan pelajaran hidup, dan layak berada di list bacaan kamu. But wait, tidak aku sarankan dibaca oleh anak yang masih di bawah umur.

Why...???

Because, ada banyak konten dewasa yang akan sangat berbahaya jika dibaca anak-anak bau kencur. Maaf kak Fara, harus kusampaikan ini pada pembaca karena demikian adanya fersi pendapatku. 🙏🙏

Over all aku suka semua dari buku ini. Baik dari segi covernya yang ciamik abis terutama perpaduan warnanya: hitam, coklat dan sedikit putih hingga kisah yang membuat larut sampai nggak sadar ikut meneteskan air mata. Baik untuk terapi mata buat yang jarang nangis nih. Hehe, konon air mata itu bagus untuk kesehatan mata ternyata.

But, maaf, untuk artikel ini, sedikit aku sensor bagian seksih p*h*nya dengan kertas pembatas, meski sebenarnya di kertas pembatas juga ada gambarnya. 🤦🤦 Tapi kecil kok ✌️✌️. Mungkin bagi sebagian orang ini wajar, tapi tiap-tiap individu berhak punya pendapatnya masing-masing. ✌️✌️✌️ *Peace lagi 😁😁*


Betewe, ini adalah pertama kalinya aku pre-order buku. Wahh, dapat yang bertanda tangan langsung nih dari Kak Fara. Terima kasih. Aku suka, aku suka...

Sekian ya review novel 'Invalidite - The Bridge of Perfection' dari aku. Apabila ada salah-salah kata mohon dimaafkan ya gaes. 🙏

Salam, *simpleannia.blogspot.com*

Baca juga ya gaes:
[REVIEW] Catatan Juang - Konspirasi Alam Semesta by Fiersa Besari

[REVIEW] Sebuah Usaha Melupakan - Boy Candra




Senin, 05 Maret 2018

Resign! by Almira Bastari


Judul : Resign!
Penulis : Almira Bestari
Editor : Claudia Von Nasution
Desain Sampul : Orkha Creative
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Pertama : Tahun 2018
Jumlah Halaman : 288 hlm

***

Buat lo… lo… lo… yang suka / sering / selalu bilang “Resign” tapi cuma omdo – alias omong doang – wajib banget baca ini punya buku. Why??? Karena novel fiksi karya Kak Almira ini (sok-sokan panggil “Kak”, tak apalah, secara usia kami cuma beda setahun, muda di gue. Hehehe… peace ya Kak Mira…) menyajikan hal-hal yang (mungkin atau mungkin banget) berada di benak kita selama ini, alasan mengapa ingin resign. Atau, alasan mengapa gagal resign. *ckckckck*

Membacanya sekilas membuatku membayangkan seperti sedang nonton ftv dengan plot cerita yang selalu sukses bikin penasaran dan baper. Walhasil, dalam tiga hari buku ini sudah rampung kubaca. Saking gregetnya antara pengin cepet nemuin endingnya dan enak menikmati alurnya yang penuh humor. Mungkin buat agan-agan yang hobi baca and punya banyak waktu luang bisa selesai dalam sekali duduk. Secara, gue cuma bisa baca di malam hari doang sebelum tidur, maka tiga hari itu sudah masuk dalam kategori cepat – versi gue yaa.

Pada buku ini pula, gue merasa menemukan istilah yang tepat buat status kepegawaian gue di tempat kerja.

“Cungpret. Alias kacung kampret.”

Yap, gue rasa, ketimbang disebut sebagai karyawan, sebutan cungpret emang lebih cocok disematkan ke diri gue. Dan alasan gue mantep banget buat beli buku ini adalah adanya kemiripan nasib dengan para cungpret yang di usung Kak Mira dalam novel bersampul dominan warna kuning ini (ngga semua tokoh ya, cuma ‘sebagian’ aja) Dan juga karena terlalu seringnya gue bilang “resign” tapi nyatanya NIHIL. NOL BESAR.

Ah, pokoknya gue ngga mau terlalu banyak spoiler di sini. Buat yang penasaran gimana ceritanya bisa segera diburu deh bukunya. Kemarin gue beli pake harga promo di salah satu tobuline - alias toko buku online - yang ketangkep basah promosi di IG dengan harga enam puluh satu ribu rupiah. Kalau ditulis pake angka begini kali ya Rp 61.000,00 atau biar kekinian begini saja 61k.

Okke gaes, berikut gue kasih bocoran deh – review yang ditulis di sampul bagian belakang – dari buku “Resign!

Check this out….

***

Kompetisi sengit terjadi di sebuah kantor konsultan di Jakarta. Pesertanya adalah para cungpret, alias kacung kampret. Yang mereka incar bukanlah penghargaan pegawai terbaik, jabatan tertinggi, atau bonus terbesar, melainkan memenangkan taruhan untuk segera resign!

Cungpret #1: Alranita
Pegawai termuda yang tertekan akibat perlakuan semena-mena sang bos.

Cungpret #2: Carlo
Pegawai yang baru menikah dan ingin mencari pekerjaan dengan penghasilan lebih tinggi.

Cungpret #3: Karenina
Pegawai senior yang selalu dianggap tidak becus tapi terus-menerus dijejali proyek baru.

Cungpret #4: Andre
Pegawai senior kesayangan sang bos yang berniat resign demi menikmati kehidupan keluarga yang lebih normal dan seimbang.

Sang Bos: Tigran
Pemimpin genius, misterius, dan arogan, tapi dipercaya untuk memimpin timnya sendiri pada usia yang masih cukup muda.

Resign sebenarnya tidak sulit dilakukan. Namun kalau kamu memiliki bos yang punya radar sangat kuat seperti Tigran, semua usahamu akan terbaca olehnya. Pertanyaannya, siapakah yang akan memenangkan taruhan?

***

Dan pada paragraph terakhir bagian “Terima Kasih” Kak Mira menulis:

“Sooo, thank you so much for you who are reading this book! I hope you will find joy in doing your job. Kalau nggak happy, mungkin bisa resign? ;P”

Hmmm, ok… kalau ngga happy, mungkin bisa resign!
*Soon!!*

Senin, 08 Januari 2018

[REVIEW] Catatan Juang - Sebuah Konspirasi Alam Semesta



Judul Buku : Catatan Juang

Penulis : Fiersa Besari

Penyunting : Juliagar R. N.

Penyunting Akhir : Agus Wahadyo

Desainer Cover : Budi Setiawan

Lettering : @deanurrizkir

Penata Letak : Didit Sasono

Diterbitkan pertama kali oleh : mediakita

Cetakan Pertama : Tahun 2017

Jumlah Halaman : vi + 306 halaman

Catatan Juang’ adalah buku ketiga karya Fiersa Besari dan merupakan sempalan dari novel sebelumnya yang berjudul ‘Konspirasi Alam Semesta’ yang dapat kita nikmati secara terpisah. Hanya saja, pasti bakalan penasaran kalau udah baca buku ini, tapi belum baca Konspirasi Alam Semesta. Kalau kamu ngga setuju, itu urusanmu. Hehehe… Ketularan jargonnya Bung Fiersa nih…

Pada buku berdimensi 13 x 19 cm ini juga ada beberapa sempalan quote dari karya pertamanya yang berjudul ‘Garis Waktu’. Tapi, meskipun ditulis dan dibaca berkali-kali pun rasanya masih asik aja, nggak bosan. Mungkin karena kata-katanya yang enteng dan masuk sama realita yang banyak kita lihat di jaman now. *jiahhh*

Lebih tepatnya si karena aku merasa setuju dengan apa-apa yang Bung Fiersa sampaikan. Seolah beliau tahu betul apa-apa yang telah aku lalui, paham betul apa-apa yang aku pikirkan, dan mengerti betul apa-apa yang aku inginkan. Ah, apakah ini semacam konspirasi alam semesta? *xixixi*

Pada kisah 300 halaman ini (karena 6 halaman terakhir berisi ucapan terima kasih dan biografi penulis), masih seperti biasa, penulis selalu menyisipkan pesan-pesan sosial dan humanisme. Kali ini melalui Kasuarina atau Suar – sang tokoh utama yang menemukan sebuah buku ‘Catatan Juang’ saat dirinya hendak turun dari angkot. Alih-alih mencari siapa pemilik aslinya, Suar justru keterusan membaca isinya dan mulai terinspirasi dengan apa-apa yang catatan itu kemukakan.

Lalu melalui Dude – seorang aktivis sosial, pegiat seni, keturunan Batak yang mencoba keberuntungannya membuka kedai kopi.

Juga melalui tokoh-tokoh lain yang berhubugan dengan mereka serta tak ketinggalan melalui buku bersampul merah yang berisi catatan Juang.

Saat membaca novel ini, aku sempat tersihir untuk mengikuti langkah Suar yang menuruti nasihat Juang: keluar dari zona nyaman. Keluar dari hiruk pikuknya perkotaan dan dunia kerja kantoran yang memenjara hidup kita. Lalu mencoba menikmati alam raya yang masih asri nan indah, mengingat usia manusia yang rata-rata hanya sekitar 60-70 tahun – terlalu sayang untuk dihabiskan di bawah tekanan kerja dan kesibukan yang membuat kita lupa tujuan awal diciptakannya alam dan jagad raya untuk manusia. Hmmm, betul juga.

Resign?? *iya…tidak…iya…tidak…?!*

Ah, setelah kupikir-pikir, keluar dari zona nyaman itu hanya untuk orang-orang yang memang punya pandangan lebih mantap tentang masa depannya, tentang apa yang akan ia lakukan setelah resign, tentang apa yang akan ia lakukan setelah tahu bahwa keluar dari zona nyaman memang benar-benar tidak nyaman, bukan karena terpengaruh oleh novel macam aku. Hahaha *plak!!!* ditampar biar sadar.

Jadi, kusimpan saja dulu alasannya, barangkali besok atau lusa aku benar-benar mantap untuk mengikuti langkah Suar untuk pergi menggapai apa yang sebenarnya aku inginkan.

Bagi yang penasaran seberapa magis kata-kata Bung Fiersa dalam mempengaruhi alam bawah sadar kita tentang realita hidup jaman now, yuk bisa disimak beberapa sempalan Catatan Juang di bawah ini:

***

"Lucu, kita membentuk pola pikir anak kecil agar tumbuh menjadi seperti kita. Padahal, diam-diam kita rindu menjadi anak kecil lagi."
#catatanjuang Hal. 15

"Sebagai seorang perokok saklek, tentu aku memilih untuk cuek bebek, berjudi pada nasib, dan berharap diagnosa dokter tersebut salah. Tapi, aku teringat kelakar seorang sahabat, "Kalau hidup kamu dipenuhi dengan makan engga teratur, asap rokok, serta bergadang, kamu cuma punya dua pilihan: bikin asuransi jiwa, atau mulai berolahraga. Jangan sampai nyusahin keluarga dan orang-orang terdekatmu cuma karena kamu senang menghancurkan diri sendiri." Meski ia cuma bercanda, namun kalimatnya cukup menyentilku."
#catatanjuang Hal.61

"Makanya, aku selalu percaya, orang-orang sukses di dunia ini bukanlah orang-orang berbakat; Melainkan orang-orang yang berjuang tanpa kenal menyerah."
#catatanjuang Hal.66

"Hujan tidak pernah turun dengan maksud yang buruk. Waktu dan keadaanlah yang membuatnya terasa buruk. Ah... bukankah cinta juga begitu?
Aku tertawa sendiri. Kadang sesuatu yang terbaik datang tidak tepat waktu, setelah kita puas bercengkerama dengan rasa kesal dan rasa sesal terlebih dahulu. Ah... bukankah cinta juga begitu?"
#catatanjuang Hal. 70-71

"Kebaikan tidak selalu tentang membagikan harta. Aku seringkali lupa bahwa kita bisa menjadi pembawa kebaikan kecil setiap harinya."
-Suar-
#catatanjuang Hal.72

"Gunung bukanlah tempat untuk pamer, tempat untuk berhitung ketinggian, apalagi tempat untuk menambah jumlah puncak yang sudah kita daki.
Mungkin kita baru akan mengerti esensi dari sebuah perjalanan saat kita sudah tidak lagi melakukan perjalanan cuma untuk dibilang "keren" oleh orang lain; saat kita sudah tidak lagi sibuk mengingat tempat apa saja yang sudah atau belum kita kunjungi.
Bukankah, perjalanan yang seru itu dilihat dari persahabatan yang kita jalin dengan orang-orang baru? Bukankah, perjalanan yang hebat itu diukur dari seberapa banyak pelajaran yang kita ambil dan seberapa banyak kebaikan yang kita berikan?"
#catatanjuang Hal.74

"Karena yang paling menyebalkan dari sebuah "janji" adalah: membuat seseorang menanti dan berekspektasi."
#catatanjuang Hal.78

"Diperhatikan oleh banyak orang itu memang keren. Tetapi, memperhatikan banyak hal itu jauh lebih keren."
#catatanjuang Hal.91

"Zaman boleh instan, diri kita tidak boleh instan. Karena, pada akhirnya, seseorang yang tidak mencapai sesuatu dengan instan, akan selalu tahu caranya bangkit kembali saat dijatuhkan.
#catatanjuang Hal.95-96


***

“Setiap generasi mempunyai kenangannya sendiri-sendiri, dan sungguh menyedihkan melihat banyak orang yang sangat senang melupakan masa lalu. Padahal yang perlu kita lakukan hanyalah mengingat masa lalu dengan persepsi yang tidak menyakitkan.”
#catatanjuang Hal. 116

“Kebaikan pada alam bisa dilakukan dengan hal yang paling sederhana, jangan buang sampah sembarangan, misalnya, terlepas ada yang melihat atau pun tidak.”
#catatanjuang Hal. 136

“Penolakan adalah hal biasa untuk menempa diri kita menjadi manusia luar biasa. Kalau apa-apa langsung diterima, apa asyiknya hidup ini?”
#catatanjuang Hal. 163 dan 162

“Dari mana kita akan belajar kalau sedikit saja sakit hati inginnya cepat-cepat melupakan?”
#catatanjuang Hal. 172

“Sebab kopi mengingatkanku pada cinta yang bertepuk sebelah tangan. Pahit, namum kita tak bisa berhenti menikmatinya.”
– Dude –
#catatanjuang Hal. 177

“Jangan terlalu dipikirkan. Bagian tersulit dari mengerjakan sesuatu adalah memikirkannya terlalu lama.”
#catatanjuang Hal. 187

“… jangan sembarangan menyerahkan hati ketika patah, karena hanya di tangan mekanik yang tepat hati kita akan sembuh. Jadi, tidak perlu terburu-buru. Cinta tidak hadir untuk memuaskan rasa kesepian; cinta hadir untuk menuntaskan pencarian.”
#catatanjuang Hal. 193

“Menulis adalah sebuah kebutuhan agar otak kita tidak dipenuhi oleh feses pemikiran. Maka, menulislah. Entah di buku tulis, daun lontar, prasasti, atau bahkan di media sosial.”
#catatanjuang Hal. 198

***

“Setahuku, bercanda itu seharusnya lucu, bukan menyakitkan.”
#catatanjuang Hal. 202

“Sebuah kepastian yang pahit akan jauh lebih baik daripada keplin-planan yang manis.”
– Suar –
#catatanjuang Hal. 244

“Dan percayalah, cara terkeren untuk menjadi keren adalah dengan tidak berpikir ingin menjadi keren. Karena, takkan mati kau dicaci, takkan kenyang kau dipuji.”
#catatanjuang Hal. 265

“Karena, yang menyenangkan dari menjadi orang dewasa adalah berbagi cerita dan pengalaman pada generasi muda.”
#catatanjuang Hal. 268

***
Epilog:

Buku ini membawaku untuk menilik berbagai jenis cinta dalam kehidupan. Karena cinta itu mencakup banyak hal, cinta kepada Tuhan, cinta kepada alam, cinta pada keluarga, cinta kepada lawan jenis, sahabat, tanah air, dan buku.

Oya, bukankah hobby dan cita-cita juga lahir karena adanya cinta? Jadi teruslah berjuang melakukan kebaikan atas nama cinta. Karena…
Cinta adalah harapan yang membuat segala yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Cinta adalah pemutus keputusasaan. Cinta adalah apa  yang semestinya membuat bumi ini berputar.
Para pembenci bisa membunuh kita, melakukannya lagi dan lagi. Tapi mereka takkan bisa menghapuskan harapan, semangat dan ‘cinta’ di dada kita. Sungguh, cinta takkan bisa dibunuh.
#catatanjuang hal. 299

Over all, aku sangat suka bukunya, kata-kata yang dipakai ngga terlalu berat tapi ngena. Mengenai isi novelnya,
Apakah Suar mampu berhasil menjadi sineas setelah memutuskan untuk resign dari karirnya yang cemerlang sebagai sales asuransi di sebuah bank?
Apakah akan ada cerita roman dalam kehidupan Suar?
Lalu, bagaimana Suar dapat menemukan Juang - si pemilik buku catatan yang ia temukan?

Jawabannya: monggo… bisa langsung dibaca buku Catatan Juang – nya. Sudah banyak tersedia di toko buku baik offline maupun online. Atau, jika ada teman yang sudah punya boleh coba untuk dipinjam. Karena membaca tak harus membeli bukan?