Senin, 08 Januari 2018

[REVIEW] Catatan Juang - Sebuah Konspirasi Alam Semesta



Judul Buku : Catatan Juang

Penulis : Fiersa Besari

Penyunting : Juliagar R. N.

Penyunting Akhir : Agus Wahadyo

Desainer Cover : Budi Setiawan

Lettering : @deanurrizkir

Penata Letak : Didit Sasono

Diterbitkan pertama kali oleh : mediakita

Cetakan Pertama : Tahun 2017

Jumlah Halaman : vi + 306 halaman

Catatan Juang’ adalah buku ketiga karya Fiersa Besari dan merupakan sempalan dari novel sebelumnya yang berjudul ‘Konspirasi Alam Semesta’ yang dapat kita nikmati secara terpisah. Hanya saja, pasti bakalan penasaran kalau udah baca buku ini, tapi belum baca Konspirasi Alam Semesta. Kalau kamu ngga setuju, itu urusanmu. Hehehe… Ketularan jargonnya Bung Fiersa nih…

Pada buku berdimensi 13 x 19 cm ini juga ada beberapa sempalan quote dari karya pertamanya yang berjudul ‘Garis Waktu’. Tapi, meskipun ditulis dan dibaca berkali-kali pun rasanya masih asik aja, nggak bosan. Mungkin karena kata-katanya yang enteng dan masuk sama realita yang banyak kita lihat di jaman now. *jiahhh*

Lebih tepatnya si karena aku merasa setuju dengan apa-apa yang Bung Fiersa sampaikan. Seolah beliau tahu betul apa-apa yang telah aku lalui, paham betul apa-apa yang aku pikirkan, dan mengerti betul apa-apa yang aku inginkan. Ah, apakah ini semacam konspirasi alam semesta? *xixixi*

Pada kisah 300 halaman ini (karena 6 halaman terakhir berisi ucapan terima kasih dan biografi penulis), masih seperti biasa, penulis selalu menyisipkan pesan-pesan sosial dan humanisme. Kali ini melalui Kasuarina atau Suar – sang tokoh utama yang menemukan sebuah buku ‘Catatan Juang’ saat dirinya hendak turun dari angkot. Alih-alih mencari siapa pemilik aslinya, Suar justru keterusan membaca isinya dan mulai terinspirasi dengan apa-apa yang catatan itu kemukakan.

Lalu melalui Dude – seorang aktivis sosial, pegiat seni, keturunan Batak yang mencoba keberuntungannya membuka kedai kopi.

Juga melalui tokoh-tokoh lain yang berhubugan dengan mereka serta tak ketinggalan melalui buku bersampul merah yang berisi catatan Juang.

Saat membaca novel ini, aku sempat tersihir untuk mengikuti langkah Suar yang menuruti nasihat Juang: keluar dari zona nyaman. Keluar dari hiruk pikuknya perkotaan dan dunia kerja kantoran yang memenjara hidup kita. Lalu mencoba menikmati alam raya yang masih asri nan indah, mengingat usia manusia yang rata-rata hanya sekitar 60-70 tahun – terlalu sayang untuk dihabiskan di bawah tekanan kerja dan kesibukan yang membuat kita lupa tujuan awal diciptakannya alam dan jagad raya untuk manusia. Hmmm, betul juga.

Resign?? *iya…tidak…iya…tidak…?!*

Ah, setelah kupikir-pikir, keluar dari zona nyaman itu hanya untuk orang-orang yang memang punya pandangan lebih mantap tentang masa depannya, tentang apa yang akan ia lakukan setelah resign, tentang apa yang akan ia lakukan setelah tahu bahwa keluar dari zona nyaman memang benar-benar tidak nyaman, bukan karena terpengaruh oleh novel macam aku. Hahaha *plak!!!* ditampar biar sadar.

Jadi, kusimpan saja dulu alasannya, barangkali besok atau lusa aku benar-benar mantap untuk mengikuti langkah Suar untuk pergi menggapai apa yang sebenarnya aku inginkan.

Bagi yang penasaran seberapa magis kata-kata Bung Fiersa dalam mempengaruhi alam bawah sadar kita tentang realita hidup jaman now, yuk bisa disimak beberapa sempalan Catatan Juang di bawah ini:

***

"Lucu, kita membentuk pola pikir anak kecil agar tumbuh menjadi seperti kita. Padahal, diam-diam kita rindu menjadi anak kecil lagi."
#catatanjuang Hal. 15

"Sebagai seorang perokok saklek, tentu aku memilih untuk cuek bebek, berjudi pada nasib, dan berharap diagnosa dokter tersebut salah. Tapi, aku teringat kelakar seorang sahabat, "Kalau hidup kamu dipenuhi dengan makan engga teratur, asap rokok, serta bergadang, kamu cuma punya dua pilihan: bikin asuransi jiwa, atau mulai berolahraga. Jangan sampai nyusahin keluarga dan orang-orang terdekatmu cuma karena kamu senang menghancurkan diri sendiri." Meski ia cuma bercanda, namun kalimatnya cukup menyentilku."
#catatanjuang Hal.61

"Makanya, aku selalu percaya, orang-orang sukses di dunia ini bukanlah orang-orang berbakat; Melainkan orang-orang yang berjuang tanpa kenal menyerah."
#catatanjuang Hal.66

"Hujan tidak pernah turun dengan maksud yang buruk. Waktu dan keadaanlah yang membuatnya terasa buruk. Ah... bukankah cinta juga begitu?
Aku tertawa sendiri. Kadang sesuatu yang terbaik datang tidak tepat waktu, setelah kita puas bercengkerama dengan rasa kesal dan rasa sesal terlebih dahulu. Ah... bukankah cinta juga begitu?"
#catatanjuang Hal. 70-71

"Kebaikan tidak selalu tentang membagikan harta. Aku seringkali lupa bahwa kita bisa menjadi pembawa kebaikan kecil setiap harinya."
-Suar-
#catatanjuang Hal.72

"Gunung bukanlah tempat untuk pamer, tempat untuk berhitung ketinggian, apalagi tempat untuk menambah jumlah puncak yang sudah kita daki.
Mungkin kita baru akan mengerti esensi dari sebuah perjalanan saat kita sudah tidak lagi melakukan perjalanan cuma untuk dibilang "keren" oleh orang lain; saat kita sudah tidak lagi sibuk mengingat tempat apa saja yang sudah atau belum kita kunjungi.
Bukankah, perjalanan yang seru itu dilihat dari persahabatan yang kita jalin dengan orang-orang baru? Bukankah, perjalanan yang hebat itu diukur dari seberapa banyak pelajaran yang kita ambil dan seberapa banyak kebaikan yang kita berikan?"
#catatanjuang Hal.74

"Karena yang paling menyebalkan dari sebuah "janji" adalah: membuat seseorang menanti dan berekspektasi."
#catatanjuang Hal.78

"Diperhatikan oleh banyak orang itu memang keren. Tetapi, memperhatikan banyak hal itu jauh lebih keren."
#catatanjuang Hal.91

"Zaman boleh instan, diri kita tidak boleh instan. Karena, pada akhirnya, seseorang yang tidak mencapai sesuatu dengan instan, akan selalu tahu caranya bangkit kembali saat dijatuhkan.
#catatanjuang Hal.95-96


***

“Setiap generasi mempunyai kenangannya sendiri-sendiri, dan sungguh menyedihkan melihat banyak orang yang sangat senang melupakan masa lalu. Padahal yang perlu kita lakukan hanyalah mengingat masa lalu dengan persepsi yang tidak menyakitkan.”
#catatanjuang Hal. 116

“Kebaikan pada alam bisa dilakukan dengan hal yang paling sederhana, jangan buang sampah sembarangan, misalnya, terlepas ada yang melihat atau pun tidak.”
#catatanjuang Hal. 136

“Penolakan adalah hal biasa untuk menempa diri kita menjadi manusia luar biasa. Kalau apa-apa langsung diterima, apa asyiknya hidup ini?”
#catatanjuang Hal. 163 dan 162

“Dari mana kita akan belajar kalau sedikit saja sakit hati inginnya cepat-cepat melupakan?”
#catatanjuang Hal. 172

“Sebab kopi mengingatkanku pada cinta yang bertepuk sebelah tangan. Pahit, namum kita tak bisa berhenti menikmatinya.”
– Dude –
#catatanjuang Hal. 177

“Jangan terlalu dipikirkan. Bagian tersulit dari mengerjakan sesuatu adalah memikirkannya terlalu lama.”
#catatanjuang Hal. 187

“… jangan sembarangan menyerahkan hati ketika patah, karena hanya di tangan mekanik yang tepat hati kita akan sembuh. Jadi, tidak perlu terburu-buru. Cinta tidak hadir untuk memuaskan rasa kesepian; cinta hadir untuk menuntaskan pencarian.”
#catatanjuang Hal. 193

“Menulis adalah sebuah kebutuhan agar otak kita tidak dipenuhi oleh feses pemikiran. Maka, menulislah. Entah di buku tulis, daun lontar, prasasti, atau bahkan di media sosial.”
#catatanjuang Hal. 198

***

“Setahuku, bercanda itu seharusnya lucu, bukan menyakitkan.”
#catatanjuang Hal. 202

“Sebuah kepastian yang pahit akan jauh lebih baik daripada keplin-planan yang manis.”
– Suar –
#catatanjuang Hal. 244

“Dan percayalah, cara terkeren untuk menjadi keren adalah dengan tidak berpikir ingin menjadi keren. Karena, takkan mati kau dicaci, takkan kenyang kau dipuji.”
#catatanjuang Hal. 265

“Karena, yang menyenangkan dari menjadi orang dewasa adalah berbagi cerita dan pengalaman pada generasi muda.”
#catatanjuang Hal. 268

***
Epilog:

Buku ini membawaku untuk menilik berbagai jenis cinta dalam kehidupan. Karena cinta itu mencakup banyak hal, cinta kepada Tuhan, cinta kepada alam, cinta pada keluarga, cinta kepada lawan jenis, sahabat, tanah air, dan buku.

Oya, bukankah hobby dan cita-cita juga lahir karena adanya cinta? Jadi teruslah berjuang melakukan kebaikan atas nama cinta. Karena…
Cinta adalah harapan yang membuat segala yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Cinta adalah pemutus keputusasaan. Cinta adalah apa  yang semestinya membuat bumi ini berputar.
Para pembenci bisa membunuh kita, melakukannya lagi dan lagi. Tapi mereka takkan bisa menghapuskan harapan, semangat dan ‘cinta’ di dada kita. Sungguh, cinta takkan bisa dibunuh.
#catatanjuang hal. 299

Over all, aku sangat suka bukunya, kata-kata yang dipakai ngga terlalu berat tapi ngena. Mengenai isi novelnya,
Apakah Suar mampu berhasil menjadi sineas setelah memutuskan untuk resign dari karirnya yang cemerlang sebagai sales asuransi di sebuah bank?
Apakah akan ada cerita roman dalam kehidupan Suar?
Lalu, bagaimana Suar dapat menemukan Juang - si pemilik buku catatan yang ia temukan?

Jawabannya: monggo… bisa langsung dibaca buku Catatan Juang – nya. Sudah banyak tersedia di toko buku baik offline maupun online. Atau, jika ada teman yang sudah punya boleh coba untuk dipinjam. Karena membaca tak harus membeli bukan?

1 komentar: