Jumat, 26 Mei 2017

[Review] Sebuah Usaha Melupakan - Boy Candra



Judul buku : Sebuah Usaha Melupakan

Penulis : Boy Candra

Penyunting : Dian Nitami

Proofreader : Agus Wahadyo

Desain Cover : Budi Setiawan

Penata Letak : Didit Sasono

Jumlah halaman : ii + 306 halaman

Cetakan Pertama : Tahun 2016

Diterbitkan pertama kali oleh : mediakita



Well, akhirnya terbayar juga nie buku ke kasir setelah sekian lama terlewati. Ini adalah buku pertama karya Boy Candra yang aku putuskan untuk beli. Dengan alasan tertarik sama cover dan judulnya yang berbau tips and trik melupakan masa lalu. (Ngga ada hubungannya sama masa lalu saya loh gaes. **suer**, hanya saja judulnya begitu menggoda) Jiaahh….


Tapi ternyata, nasehat lama itu benar sekali, “don’t judge a book just by it’s cover”. Hayo ngaku, yang punya alasan sama untuk membeli buku ini. Kemudian merasa kecewa karena isinya yang nggak sesuai sama ekspektasi. Nah lhoo?? Kok bisa. Ya bisa, karena itulah yang saya rasain setelah membaca buku non fiksi berukuran 13x19 cm ini.


Dibilang menyesal, enggak juga kali ya. Udah terlanjur kebeli ngapain disesali, lumayan lah buat koleksi. Tapi ya itu, karena udah kecewa dari paragraf –paragraf awal ngebaca, efeknya jadi lamaaaaaa banget buat ngatamin. Antara hendak tak hendak, niat tak niat, mau tak mau akhirnya dibaca juga sedikit demi sedikit di sela-sela waktu istirahat malam.


tampak samping
Kenapa kecewa??


Pertama, curhatan tentang ‘aku dan kamu’ yang tak berakhir menjadi ‘kita’ ini biasa banget. Nggak greget. Mungkin karena penyampaiannya yang datar dan berulang-ulang jadi bikin bosen dan terkesan bertele-tele. Karakter tokohnya juga tidak begitu kuat menurutku. Apalagi di 100 halaman pertama, intinya sama yang sebenarnya bisa diringkas hanya dengan 10 paragraf saja (menurutku – silahkan protes bagi yang tidak setuju).


Kedua, saya cukup bertanya-tanya dengan plot cerita yang penulis susun pada tiap sub judul/bab. Kalau dari sudut pandang saya, alurnya seperti berantakan. Maju mundur dan cukup membuat saya bingung untuk mengikuti runtutan kisah yang terjadi. Mungkin memang sengaja disusun secara acak, pengarang tetap punya alasannya sendiri. Well, kita hargai itu.


Membaca buku ini  rasanya seperti dejavu dengan Garis waktu karya fiersa besari. Terlepas dari  entah buku siapa yang terbit lebih dulu, dan tanpa bermaksud membanding-bandingkan (tapi memang susah untuk tidak membandingkan #mohondimaafkan). Saya rasa Garis Waktu lebih teratur dalam mengurai alur. 


Ketiga, adanya beberapa kata yang salah ketik serta luputnya spasi dari dua kata yang seharusnya dipisah juga menjadi masalah tersendiri, karena lama-lama cukup mengganggu saat dibaca. Sangat disayangkan, kesalahan-kesalahan seperti ini seharusnya tidak terjadi pada penerbit terkenal sekelas ‘mediakita’. Tapi ya sudahlah, pembaca harap maklum, seperti halnya manusia yang tidak semua terlahir sempurna. Buku pun begitu.


Keempat, melewati dua per tiga halaman buku (sekitar halaman 190an, pastinya saya lupa), saya mulai rancu, apakah tokoh kamu yang dimaksud itu berbeda-beda pada tiap sub judul/bab. Untuk memastikannya, saya mencoba membacanya lagi. Mengulang bagian yang meragukan. Berharap saya salah baca atau salah penafsiran. Daaan… tetap saja. Sepertinya ‘kamu’ pada bab ini dan bab itu  memang beda subjek.


Kelima, setelah membaca buku ini saya tidak mendapatkan feel apapun, apakah sedih, apakah termotivasi, atau baper dengan curahan hati sang penulis. *Nothing* I mean ngga ada.

cover belakang

Kata-kata mutiara yang dirangkai dengan sedemikian rupa pada tiap-tiap pergantian sub judul / bab terkesan klise dan dipaksakan pada beberapa bagian, jadi berasa kurang nendang gitu. Jiaaahhh… *dikira makanan??* Tapi tenang, ada kok yang bagus.


Lagi-lagi, ditafsir dari sudut pandang saya pribadi (saya tidak memaksa kamu untuk setuju loh ya… tiap orang bebas berpendapat). Beberapa quotes yang ada terkesan penuh emosi yang menggebu-gebu. Bahkan ada pula yang berbau kutukan. Agak bergidik juga bacanya. Eitsss jangan parno dulu, bukunya tidak berbau horor kok?? 

But, terlepas dari semua luapan kecewa yang ada, sebuah buku tetap lah membawa sisi positifnya masing-masing. Seperti halnya dengan ‘Sebuah Usaha Melupakan’ ini, sisi manisnya adalah tetap ada saja pembelajaran yang bisa kita ambil. Terutama tentang suatu yang menyangkut perasaan, kesetiaan, dan pengkhianatan. Bahwa kesemuanya akan tetap meninggalkan bekas.

Tentang cita-cita yang tetap harus diperjuangkan dengan sepenuh hati, tentang pentingnya keputusan untuk move on dan menatap masa depan yang lebih baik. Hal positif lainnya adalah tetap saja ada beberapa quotes menarik yang penulis rangkai dengan indah. Bolehlah buat referensi bacaan orang-orang yang masih galau. Kali aja dapat pencerahan. Hehehe…


Berikut saya kutip beberapa yang sekiranya menarik (menurut saya):



==============================


Matamu adalah racun yang melahirkan candu.
Pelan-pelan mencairkan kebekuanku,

tetapi tak pernah mampu

melahirkan keberanian untuk memintamu.



Akhirnya aku belajar melepasmu,

bukan karena aku tidak lagi mencintaimu.

Bukan juga karena sayangku sudah habis di dalam hati.



Namun aku sadar,

mencintaimu sendirian

bukanlah cinta yang wajar.



Aku belajar menerima diri,

bahwa aku

memang bukan orang yang kau inginkan.



Kelak, suatu hari nanti

Kau juga harus belajar menyadari.

Bahwa kau sudah kulupakan

dan bukan orang yang penting kemudian.



(Boy Candra – Sebuah Usaha Melupakan)




1 komentar:

  1. terimakasih infonya sangat menarik, silahkan kunjungi web kami http://bit.ly/2KFWNkJ

    BalasHapus