Jumat, 10 Agustus 2018

Putih Abu-abu, Aku Rindu

simpleannia.blogspot.com

Bangun pagi, mandi, sarapan sambil nonton ‘Sport7 Pagi’, lalu berangkat sekolah. Jalan sekitar satu koma lima kilometer sebelum sampai di jalan raya, kalau sepeda bututku lagi bersahabat maka aku beruntung bisa nonton berita olahraga sampai bubar karena ngga perlu jalan kaki. Lalu lanjut naik bus umum yang sesaknya minta ampun. Maklum saja, tahun 2008 sepeda motor belum sebanyak sepuluh tahun kemudian.

Sekolahku, gerbangnya selalu terbuka, jadi ngga ada kata tidak masuk jika terlambat. Guru-gurunya bersahabat, meski beberapa memang masih menerapkan sistem hierarki yang mengharapkan murid-muridnya sendiko dawuh dengan kata-kata dan perintahnya, over all beliau-beliau adalah orang baik. Meski definisi baik juga sebenarnya relatif.

Sekolahku masuk ke dalam kategori bangunan cagar budaya. Jadi, konon, karena itulah bangunan-bangunan intinya tidak boleh dirubah baik bentuk maupun penampilannya. Walhasil, bangunan-bangunan baru yang kini mengah bersanding dengan bangunan kuno di sisi dalam sekolah.

Tahun 2008, muridnya belum sebanyak tahun ini. Mungkin sekitar 750 siswa, kurang atau lebih sedikit.  Lapangannya juga masih luas, alih-alih menyebut lapangan, siswa-siswa dari sekolah lain justru menyebutnya dengan alun-alun. Entah mereka takjub karena nggak punya lapangan selebar itu, atau mereka sebenarnya sedang ngece, lapangannya lebih luas dari pada ruang belajarnya, tak seperti sekolah pada umumnya.

Bahkan, tahun 2007, sebelum sebagian lapangan dibangun ruang kelas, tepi-tepi jalannya tumbuh tinggi pohon yang entah apa namanya, tapi kalau sudah berbunga, waaahhhh, jangan tanya soal keindahannya. Saat kita berjalan dibawahnya, kelopak-kelopak bunga yang dominan warna kuning berguguran menyiram wajah kita. Apalagi kalau siang, saat angin mulai menyisir dedaunan. Kami menyebutnya bunga sakura. Sakura ala ala siswa yang membayangkan Jepang.

Di tahun ajaran terakhir, hampir setiap siswa sudah menggunakan handphone (jika disebutka merk dan tipenya, sekarang pasti dicap jadul, meski ada beberapa yang sudah canggih. Definisi canggih saat itu adalah mampu memotret, menyetel musik mp3, setingkat lebih tinggi adalah dilengkapi antena televisi)

Dulu kami tak mengenal media sosial kecuali friendster, itupun tak banyak yang pakai. Paling hanya iseng bikin di warnet, habis itu udah, ngga pernah dibuka lagi. Nyatanya yang seperti ini justru membuat kami - para siswa - berinteraksi dengan lebih nyata. Lebih akrab, dan kemudian menjadi lebih bersahabat.


***

Ah, masa-masa sekolah memang selalu saja menjadi kenangan yang paling dirindukan oleh orang - yang katanya - sudah dewasa (termasuk juga aku). Mengapa?? Padahal, dulu, waktu masih sekolah, ngebet banget pengin cepet lulus. Biar bisa cepet kerja. Dan yang paling utama adalah biar bisa menghasilkan duit dari keringet sendiri. Secara, menyandang predikat siswa duitnya ngga seberapa. Pengin ini, pengin itu, sabar dulu, hemat dulu, nabung dulu. Kecuali bagi siswa yang bokap nyokapnya tajir melintir.

Setidaknya, begitu yang aku pikirkan. Kalau beberapa atau banyak orang yang pengin cepet lulus karena ingin segera mengaplikasikan ilmunya, salut deh buat mereka. Karena mereka termasuk jajaran manusia yang dibutuhkan negara dan masyarakat di Bumi ini.

Jadi, dik. Yang saat ini masih sekolah, yang pengin cepet-cepet lulus biar bisa kerja, percayalah, dunia kerja ngga sesimple ‘kerja dapat duit’, dik. Banyak hal-hal yang nyatanya membuatmu ingin kembali saja ke bangku sekolah. Maka dari itu, nikmatilah masa-masa sekolahmu dik. Tanpa bermaksud menggurui, belajarlah yang benar dan bermainlah sewajarnya anak sekolah. 

(simpleannia.blogspot.com)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar